Budayawan Muda Mandar Soroti Pergeseran Makna Tradisi Sayyang Pattuduq

MAJENE,Channelsulbar.Com– Sayyang Pattuduq menjadi salah satu warisan masyarakat Mandar di Sulawesi Barat yang masih tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. Namun tradisi yang identik dengan arak arakan kuda menari dan diiringi dengan tabuhan rebana, dinilai mengalami pergeseran makna.

Budayawan muda Mandar asal Kabupaten Majene, Thamrin,mengatakan Sayyang Pattuduq bukan hanya sekedar perayaan, tetapi juga menyimpan makna sakral yang berkaitan dengan nilai keislaman dan penghormatan terhadap Alquran. “Salah satunya makna didalam tradisi Sayyang Pattuduq sebagai wujud dan bentuk kecintaan kita terhadap Rasulullah,” kata Thamrin kepada Channelsulbar. Com, sabtu 7/11/2026.

Anak-anak yang telah khatam Alquran diarak menunggangi kuda yang diiringi dengan tabuhan rebana, kalindadaq menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi ini, menambah semarak perayaan maulid di masyarakat Mandar.

“Mungkin cuma satu satunya di Indonesia tradisi Mammunu (maulid) itu hampir tiga bulan. Uru munu (awal maulid), tangnga munu (pertengahan maulid), dan cappu munu (akhir maulid) dengan tradisi Sayyang Pattuduq,” sebutnya.

Tradisi Sayyang Pattuduq juga disebut memiliki makna ungkapan kegembiraan atas anak yang telah menyelesaikan atau khatam Al-Qur’an dan di dalamnya ada pesan edukasi dan motivasi pendidik agama bagi anak-anak di Tanah Mandar. “Dengan cara seperti ini, bayangkan saja, seperti anak saya dia bilang, pak mauka belajar, mauka banyak makan, supaya kalau besar mauka naik kuda. Baru melihat saja acara Sayyang Pattuduq, anak-anak termotivasi mau naik kuda.”

“Ini belum tentang khatam Alquran,” kata Thamrin yang juga seorang pegiat literasi asal Majene tersebut. Tradisi Sayyang Pattuduq disebutkan memiliki nilai historis yang erat kaitannya dengan silaturahmi dan pesan-pesan yang diwariskan masyarakat Mandar terdahulu. “Di dalam proses itu banyak hal, nilai silaturahmi, nilai sosiologis, nilai religius dan pappasang todiolo ( pesan orang dulu),” paparnya.

Terjadi pergeseran nilai Lanjut Kepala Perpustakaan Unsulbar ini bahwa seiring dengan perkembangan zaman , sejumlah nilai dalam tradisi Sayyang Pattuduq dianggap mulai mengalami pergeseran. Tradisi yang semula sarat nilai sakral, penghormatan terhadap anak yang khatam Alquran, serta pesan leluhur itu kini dinilai mulai menjauh dari nilai-nilai yang diwariskan secara turun temurun.

“Tomessawe totamma mangaji (naik kuda orang khatam Al-Qur’an) banyak unsur di dalamnya. Ada pakkalidadaq , rebana, orang naik kuda.”

“Contohnya di Kalindadaq sekarang ini yang dimunculkan Kalindadaq asmara, seharusnya Kalindadaq masalah agama. Karena yang di atas naik kuda orang khatam Al-Qur’an,” sebutnya. “Sekarang nangga pangino panginoan mi die apa apae (dianggap mainan) sekarang Kalindadaq. bukan dianggap sakral yang mesti dijaga makna religius nya,” lanjut Thamrin. Pergeseran makna dalam tradisi Sayyang Pattuduq disebut turut memicu munculnya kericuhan dan perkelahian di tengah masyarakat saat acara itu dilangsungkan.

“Contohnya kejadian di Maliaya Malunda beberapa waktu lalu, terjadi keributan saat acara Sayyang Pattuduq,” paparnya. Salah satunya juga disebut Thamrin adalah perilaku penunggang kuda yang bergoyang secara berlebihan dinilai tidak etis dan kurang mencerminkan nilai religius salam tradisi itu. Ia mengatakan dengan kondisi pergeseran makna Sayyang Pattuduq menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak, baik tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, maupun masyarakat, untuk menjaga nilai-nilai sakral Sayyang Pattuduq agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Pelestarian tradisi ini bukan sekadar mempertahankan kemeriahannya, tetapi memastikan makna religius dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.

“Ini menjadi pekerjaan rumah kita semua harus ada kolektifitas dan komitmen bersama dalam menjaga tradisi Sayyang Pattuduq agar tidak terjadi pergeseran makna,” harapnya***


Baca Juga:   Sertijab Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab. Majene