MAJENE,Chanelsulbar,Com-Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Majene melaksanakan kegiatan publikasi Museum Mandar melalui media cetak, media online, dan media elektronik.
Kegiatan ini didanai melalui Anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik BOP MTB Tahun 2025 dan berlangsung di Museum Mandar Majene, Senin (22/12/2025).
Program publikasi ini menjadi langkah strategis pemerintah daerah dalam memperluas jangkauan informasi sejarah dan budaya Mandar kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan minat kunjungan ke museum di tengah tantangan era digital.
” Kepala Disbudpar Kabupaten Majene, Ahmad Jamaan, dalam sambutannya menjelaskan bahwa Museum Mandar merupakan bangunan bersejarah yang berasal dari masa kolonial tahun 1908.
Bangunan tersebut dulunya dikenal sebagai Rumah Sakit Boyang Tomonge dan kini telah dialihfungsikan serta dikelola pemerintah daerah melalui Disbudpar sebagai museum kebanggaan masyarakat Majene.
“Gedung ini dibangun secara bertahap oleh tokoh-tokoh dan orang tua kita terdahulu hingga menjadi museum yang diakui secara kemuseuman seperti sekarang. Bahkan, hingga saat ini Museum Mandar menjadi satu-satunya museum yang ada di Provinsi Sulawesi Barat dan berada di Kabupaten Majene,”ujarnya
Menurut Ahmad Jamaan, publikasi museum menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah. Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai ruang edukasi yang memperkuat identitas budaya Mandar.
Ia menambahkan, pengembangan museum ke depan harus diarahkan pada penyajian koleksi yang mendukung proses pembelajaran. Terlebih, kurikulum pendidikan saat ini memberikan ruang besar bagi museum sebagai sumber belajar melalui implementasi Kurikulum Merdeka.
“Sekolah-sekolah kini menjadikan museum sebagai salah satu objek pembelajaran. Karena itu, kami mendorong program seperti ‘museum masuk sekolah’ agar pelajar dan generasi muda mengenal museum serta mudah mengakses informasi sejarah dan budaya,” ungkapnya.
” Ahmad Jamaan menegaskan bahwa publikasi melalui media cetak, online, dan elektronik menjadi kunci untuk memperluas akses masyarakat, baik sebagai tempat rekreasi edukatif maupun sebagai sumber literasi budaya. Upaya ini juga dibarengi dengan kerja sama bersama perguruan tinggi dan sekolah-sekolah di Majene.
“Tanpa publikasi di era digital, informasi tentang koleksi museum tidak akan sampai ke masyarakat luas. Museum harus hadir di ruang publik dan digital agar koleksinya tetap relevan dan terjaga,” tuturnya.
Di tempat yang sama, Kepala UPTD Museum Mandar Majene, Susanna, menyampaikan bahwa pengenalan budaya lokal terus dilakukan melalui penguatan publikasi media. Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menjembatani museum dengan masyarakat dan menjadikan museum sebagai pusat literasi kebudayaan.
” Selain sebagai ruang edukasi, pelataran Museum Mandar juga dimanfaatkan sebagai ruang publik, salah satunya untuk kegiatan senam masyarakat Majene maupun pengunjung dari luar daerah. Hal ini menjadi bagian dari upaya mendekatkan museum dengan kehidupan sehari-hari warga.
Museum Mandar menyimpan berbagai koleksi bernilai sejarah tinggi, mulai dari foto-foto dokumentasi, pakaian adat, senjata tradisional, naskah kuno, hingga arsip sejarah Kerajaan Mandar. Koleksi tersebut perlu dikenalkan secara luas agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Pengelola Museum Mandar berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas publikasi serta menjalin kerja sama dengan media, institusi pendidikan, dan komunitas budaya. Ini penting untuk menjaga keberlanjutan museum dan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian budaya Mandar sebagai warisan leluhur yang bernilai tinggi,” pungkas Susanna.
Kegiatan ini turut dihadiri Sekretaris Disbudpar Majene Muhammad Alfiat Mulwan, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Majene Muhammad Irsyan, Kepala UPTD Museum Mandar Majene Susanna, Pemandu Museum Mandar Tammalele, serta jajaran Disbudpar Kabupaten Majene.***( Wid)


