JAKARTA,-Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan kesiapan penuh untuk menghadapi segala bentuk agresi militer, termasuk ancaman serangan dari Amerika Serikat (AS). Pernyataan tegas ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional yang memicu sejumlah negara menyerukan warganya untuk segera meninggalkan Iran.
Panglima Angkatan Darat IRGC, Mohammad Pakpour, memperingatkan bahwa Teheran tidak akan ragu memberikan balasan telak terhadap setiap provokasi, baik dari Washington maupun Tel Aviv.
“Kami siap memberikan respons yang menghancurkan terhadap setiap serangan Amerika Serikat dan Israel yang ditujukan kepada kedaulatan Iran,” tegas Pakpour sebagaimana dikutip dari APTN, Rabu (21/1/2026).
Kesiapan Udara dan Pasokan Rudal Masif
Garda Revolusi mengonfirmasi bahwa seluruh kekuatan udara mereka kini berada dalam posisi siaga tempur (ready to fight). Iran mengeklaim telah melipatgandakan persediaan rudal mereka secara signifikan sejak berakhirnya perang terbuka dengan Israel pada Juni tahun lalu.
Selain kesiapan internal, intelijen Iran dilaporkan terus memantau secara ketat pergerakan personel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Teheran mengisyaratkan akan kembali mengandalkan kekuatan rudalnya untuk menandingi potensi langkah agresif dari pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump.
Persenjataan Strategis: Khaibar Shekan hingga Rudal Hipersonik
Dalam menghadapi potensi konflik skala besar, Iran memamerkan sejumlah alutsista strategis yang menjadi momok bagi lawan di kawasan:
Rudal Khaibar Shekan: Memiliki daya jelajah hingga 1.300 kilometer, mampu menjangkau berbagai pangkalan militer sekutu AS.
Rudal Hipersonik Fattah: Senjata canggih yang dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara paling rapat sekalipun.
Drone Shahed: Pesawat tanpa awak yang telah teruji dalam berbagai palagan konflik.
Kekuatan Personel yang Solid
Secara kekuatan numerik, militer Iran merupakan salah satu yang terbesar di kawasan. Berdasarkan data terbaru, Iran memiliki sekitar 610.000 personel militer aktif yang didukung oleh 350.000 personel cadangan yang siap dimobilisasi kapan saja.
Kondisi ini membuat situasi di Timur Tengah berada pada titik nadir. Para pengamat menilai, pernyataan IRGC ini adalah sinyal serius kepada Washington bahwa Teheran tidak akan mundur jika konfrontasi fisik benar-benar terjadi.***
Sumber: Kompas TV



