Kisah Ajaib Jenderal M Jusuf, Panglima TNI Berkalung Alquran Emas yang Kebal Peluru

Pangdam XIV/Hasanuddin Jend. TNI M. Jusuf memimpin upaya damai bertemu Andi Selle,

Chanelsulbar.Com-Muhammad Yusuf lebih dikenal sebagai Jenderal M. Jusuf lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1928, dengan nama kecil Andi Mo’mang. Sejak muda, ia menapaki jalan pengabdian yang panjang dan berliku, melintasi dua zaman besar bangsa: Orde Lama dan Orde Baru. Kariernya menanjak dari medan tempur hingga kursi kekuasaan, dari prajurit lapangan hingga Panglima ABRI, tanpa pernah melepaskan kesederhanaan dan kedekatan dengan anak buah.

Pada 1950-an, Jusuf terlibat dalam dinamika Permesta, menaruh perhatian besar pada desentralisasi keamanan Sulawesi. Kedekatannya dengan Presiden Soekarno membawanya ke Jakarta, dipercaya sebagai Menteri Perindustrian Ringan di Kabinet Dwikora sebuah bukti bahwa kecakapan militer dan kenegarawanan berpadu dalam dirinya.

Baca Juga:   Ipda Aulia: Dugaan Korupsi KUR dan Kupedes,Penetapan Tersangka Setelah Hasil Perhitungan Kerugian

Namun, kisah yang paling mengguncang datang dari Pinrang, 4 April 1964. Saat itu, Pangdam XIV/Hasanuddin M. Jusuf memimpin upaya damai bertemu Andi Selle, tokoh bersenjata yang menyimpang dari garis kebijakan negara. Dengan penuh empati, Jusuf bahkan menyempatkan makan siang sederhana bersama prajurit Siliwangi nasi, lodeh, dan sambal pete sebelum menyampaikan niatnya: mengajak Andi Selle kembali ke jalan yang benar demi membangun Sulawesi bersama.

Baca Juga:   Hadiri Pesta Rakyat Kec. Malunda, Bupati Majene Serahkan 1 Unit Mobil Damkar

Perundingan sempat berlangsung baik. Namun di perjalanan menuju rumah dinas Bupati Pinrang, situasi berubah drastis. Baku tembak jarak dekat meletus. Mobil Jusuf dihujani peluru; pengawal gugur, korban berjatuhan. Di tengah kekacauan itu, Jusuf target utama selamat tanpa luka sedikit pun. Para saksi menyebut mobilnya berlubang di banyak sisi, tetapi sang panglima keluar hidup-hidup. Jusuf sendiri mengaku merasakan panas di belakang lehernya, seolah ada perlindungan tak kasatmata.

Sejak lama, Jusuf dikenal selalu mengenakan dog tag dari masa pendidikannya di Amerika dan kalung kecil berisi Al-Qur’an emas, hadiah dari anak buahnya. Bagi banyak prajurit, itulah simbol iman, keberanian, dan keteguhan hati nilai-nilai yang membuatnya dijuluki “Panglima Para Prajurit.” Ia dekat dengan barak, menolak bergantung pada fasilitas, dan berdiri tegak sebagai pemimpin yang melindungi, bukan dilindungi.

Baca Juga:   Supriadi; Ketua Hipermakes Majene, Soroti Lemahnya Pengelolaan MBG Usai Dugaan Keracunan di Tubo Sendana

Kisah hidup Jenderal M. Jusuf bukan sekadar legenda kebal peluru. Ia adalah potret kepemimpinan yang berani, humanis, dan bersandar pada iman sebuah teladan yang terus dikenang prajurit dan bangsa.

Sumber : Sindonews.com