Dr Muhammad Nur, juga dosen Prodi Sumber Daya Akuatik Unsulbar itu menekankan bahwa pelatihan pembuatan bakso secara teknis bagaimana peserta mampu membuat surimi yakni lumatan daging ikan yang dijadikan stok pada saat ikan melimpah. Surimi ini bisa bertahan hingga 4-6 bulan di freezer. Selanjutnya lumatan daging surimi ini bisa diolah menjadi aneka olahan ikan salah satunya adalah bakso ikan terbng.

Proses pembuatan bakso ikan cukup sederhana yaitu pencucian ikan terbang, pembelahan, pengerokan daging, penghalusan daging, pencampuran bumbu, pencetakan, dan dimasak dengan air panas hingga matang. Bahan yang digunakan cukup sederhana yaitu daging ikan terbang, tepung tapioka, merica, penyedap rasa, dan beberapa bumbu. Alat yang digunakan juga sederhana yaitu penggiling daging atau cooper.
Pelatihan pembuatan bakso ikan ini berlangsung sangat menarik, peserta sangat antusias mengikuti kegiatan pelatihan, diskusi dan melakukan praktek pembuatan bakso ikan terbang. Ketua Poklahsar Purnama Mosso, Sunarti mengaku seluruh anggota kelompok sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Menurutnya kegiatan ini dapat menjadi peluang usaha baru bagi kelompok usaha karena selama ini pengolahan ikan masih terbatas pada usaha pengasapan dan pengeringan ikan terbang. Selain itu diharapkan dengan diversifikasi olahan ikan terbang ini dapat meningkatkan konsumsi ikan yang masih rendah di masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, dirinya juga menyampaikan terima kasih kepada tim PDB Unsulbar atas pelatihan diberikan. “Ini pertama kali masyarakat membuat bakso ikan terbang, ternyata bakso ikan terbang sangat enak dan kami berencana untuk mengembangkan menjadi produk usaha” jelasnya.
Pantauan di lapangan, kegiatan tersebut diawali dengan pemberian materi dan dilanjutkan dengan praktek pembuatan bakso ikan terbang serta terakhir dilakukan pengemasan produk bakso ikan terbang.(*)



